Ancaman doping bukan hanya isu di kalangan atlet profesional, tetapi juga harus diwaspadai sejak masa pembinaan dini. Komite Olahraga di Bekasi kini secara serius menerapkan inisiatif Bekasi Lawan Doping dengan memperkuat edukasi ketat zat terlarang yang menyasar langsung atlet muda dan lingkungan mereka. Langkah ini diambil untuk menanamkan budaya fair play dan kesehatan sejak awal karier atlet, sekaligus melindungi mereka dari potensi risiko kesehatan dan sanksi yang merusak karier.
Doping adalah penggunaan zat atau metode terlarang untuk meningkatkan performa atlet. Risiko doping di masa pembinaan dini sangat berbahaya, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental, karena tubuh atlet muda masih dalam tahap pertumbuhan. Sayangnya, tekanan untuk berprestasi, ditambah kurangnya pengetahuan, seringkali membuat atlet muda rentan dibujuk untuk menggunakan suplemen atau obat-obatan yang mengandung zat terlarang secara tidak sengaja atau sengaja.
Edukasi ketat zat terlarang merupakan tulang punggung dari inisiatif Bekasi Lawan Doping. Program ini tidak hanya fokus pada daftar zat yang dilarang (WADA list), tetapi juga menekankan konsekuensi etis, hukum, dan kesehatan dari penggunaan zat terlarang. Edukasi harus disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh atlet muda, melibatkan orang tua, dan juga pelatih, karena pelatih memiliki peran sentral dalam pengawasan asupan suplemen atlet.
Inisiatif Bekasi Lawan Doping juga harus mencakup pengawasan suplemen. Atlet muda sering mengonsumsi suplemen yang dijual bebas tanpa mengetahui bahwa beberapa di antaranya mungkin terkontaminasi zat terlarang yang dapat menyebabkan hasil positif saat tes doping. Klub dan Komite Olahraga harus menyediakan daftar suplemen yang direkomendasikan dan terverifikasi keamanannya.
Edukasi ketat zat terlarang yang diterapkan sejak masa pembinaan dini di Bekasi adalah investasi jangka panjang dalam integritas olahraga. Komite Olahraga harus berkolaborasi dengan Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) untuk menyelenggarakan workshop rutin. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap atlet muda memahami bahwa penggunaan zat terlarang adalah bentuk kecurangan yang tidak hanya merusak persaingan, tetapi juga merusak masa depan mereka sendiri.
