Bekasi dikenal sebagai salah satu wilayah dengan indeks panas yang cukup tinggi di Jawa Barat. Bagi para atlet renang yang berlatih di fasilitas terbuka, suhu lingkungan yang ekstrem memberikan tantangan fisiologis yang besar. Fenomena evaporasi kulit menjadi mekanisme utama bagi tubuh manusia untuk membuang panas berlebih agar suhu internal tetap stabil. Namun, saat seorang atlet berada di dalam air kolam yang terpapar sinar matahari langsung, proses pendinginan alami ini bekerja dengan cara yang berbeda dibandingkan saat berada di darat, sehingga memerlukan strategi khusus untuk mencegah penurunan performa akibat kelelahan panas.
Secara biologis, tubuh manusia berusaha mempertahankan suhu inti pada kisaran 37 derajat Celsius. Saat melakukan aktivitas fisik intens di kolam outdoor, otot menghasilkan panas yang sangat besar. Pada kondisi normal di darat, keringat yang muncul di permukaan kulit akan menguap dan membawa pergi energi panas (panas laten penguapan). Namun, saat tubuh terendam air, keringat tidak dapat menguap dengan cara yang sama. Di sinilah letak risiko bagi perenang di Bekasi; suhu air kolam yang ikut meningkat karena terik matahari dapat menghambat perpindahan panas dari tubuh ke air, yang berpotensi menyebabkan heat stress jika tidak diantisipasi.
Upaya dalam menjaga suhu inti atlet memerlukan pemahaman tentang konduksi dan konveksi termal. Air memiliki kemampuan menghantarkan panas 25 kali lebih cepat daripada udara. Namun, jika suhu air kolam di Bekasi mencapai lebih dari 30 derajat Celsius, efektivitas pendinginan melalui air akan menurun drastis. Atlet akan merasa lebih cepat lelah karena jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke permukaan kulit guna membuang panas, sekaligus menyuplai oksigen ke otot yang bekerja. Hal ini seringkali menyebabkan penurunan daya tahan secara mendadak di tengah sesi latihan yang berat.
Oleh karena itu, bagi para atlet yang berlatih di wilayah panas, hidrasi menjadi faktor yang tidak bisa ditawar. Meskipun perenang tidak merasakan keringat yang mengalir karena tubuh basah oleh air kolam, mereka sebenarnya kehilangan banyak cairan melalui keringat dan pernapasan. Kehilangan cairan ini menurunkan volume darah, yang membuat mekanisme pendinginan tubuh melalui kulit menjadi tidak efisien. Penggunaan baju renang yang memiliki teknologi sirkulasi panas atau sekadar melakukan istirahat berkala di area yang teduh sangat disarankan untuk memberikan kesempatan bagi tubuh menurunkan suhu internalnya secara bertahap.
